Seutas Sejarah Batik Sebagai Warisan Budaya Yang Harus Kita Jaga

Seutas Sejarah Batik Sebagai Warisan Budaya Yang Harus Kita Jaga

Siapa yang ngga tahu batik? Bagi masyarakat Indonesia pasti dan harus tahu Batik. Batik merupakan kain yang dilukis menggunakan canting dan lilin malam yang dilelehkan kemudian ditorehkan pada kain untuk membentuk pola-pola tertentu.

Kata Ba dari Batik dirangkai dari kata ‘amba’ yang berarti kain yang lebar dan kata ‘tik’ berasal dari kata titik, sehingga dapat disimpulkan bahwa Batik merupakan titik-titik yang digambar pada media kain yang lebar sedemikian rupa sehingga menghasilkan pola-pola yang indah.

Dikutip dari  laman Tirto yang dijelaskan oleh Arsianti Latifah melalui tulisannya “Batik dan Tradisi Kekinian” mengatakan bahwa dahulu tradisi membatik dianggap sebagai tradisi yang hanya bisa ada di dalam keraton dan diperuntukkan sebagai pakaian raja, keluarga, serta para pengikutnya, sehingga menjadi simbol feodalisme Jawa. Namun, dikarenakan pekerja di kerajaan tinggal di luar keraton, mereka sering membawa pekerjaan membatik ke luar kerajaan. Oleh karena itu, tak lama kemudian banyak masyarakat yang meniru membuat batik. Awalnya, kegiatan membatik ini hanya dikerjakan oleh perempuan saja untuk mengisi waktu senggang lalu berkembang menjadi pekerjaan tetap perempuan pada masa itu dan saat ini, membuat batik dapat dilakukan oleh siapa saja.

Tidak ada yang dapat memastikan kapan batik tercipta, tetapi batik sudah ada sejak zaman Majapahit silam dan terus berkembang pada raja-raja selanjutnya.

Batik di zaman Majapahit

Batik tulis yang tumbuh di kerajaan Majahit dapat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulungagung. Pada waktu itu, daerah Tulungagung terkenal dengan nama daerah Bonorowo. Daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, yang tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit. Saat itu Majapahit sedang berkembang.

Adipati Kalang kemudian tewas dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahit di sekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Keluarga kerajaan Majapahit dan tentaranya kemudian menetap di wilayah Bonorowo dan membawa kesenian batik ke wilayah tersebut.

Pada akhir abad ke 19, terdapat beberapa orang pengrajin batik mulai muncul di Mojokerto. Saat itu, bahan-bahan yang dipakai untuk membatik hanya kain putih yang ditenun sendiri dan menggunakan bahan-bahan tradisional seperti campuran obat-obat batik dari soga jambal, mengkudu, nila tom, tingi dan sebagainya.

Kemudian pada akhir perang dunia pertama, batik cap mulai dikenal di Mojokerto yang diperkenalkan oleh pedagang Cina bersamaan dengan masuknya obat-obat pewarna batik dari luar negeri.

Meskipun batik dikenal sejak jaman Majapahait, namun batik mulai menyebar sejak pesatnya perkembangan batik di daerah Solo dan Yogyakata, pada jaman kerajaan di daerah ini. Hal itu tampak dari perkembangan batik di Mojokerto dan Tulungagung yang dipengaruhi corak batik Solo dan Yogyakarta.

Batik di zaman penyebaran Islam

Perkembangan batik saat zaman penyebaran islam dapat ditelusuri di Jawa Timur, khususnya di daerah Ponorogo.

Konon, di daerah Batoro Katong, terdapat seorang keturunan dari kerajaan Majapahit yang bernama Raden Katong yang merupakan adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah yang membawa agama Islam ke Ponorogo.

Selanjutnya, di Ponorogo, di daerah Tegalsari terdapat sebuah pesantren yang diasuh oleh Kyai Hasan Basri. Kyai Hasan ini menjadi menantu raja di Keraton Solo pada saat itu. Istrinya yang berasal dari Solo yang membawa seni batik keluar dari keraton menuju ke Ponorogo.

Di samping itu, banyak pula keluarga kraton Solo belajar di pesantren milik Kyai Hasan.

Batik dikancah internasional

Batik sendiri mulai dikenal oleh masyarakat luar negeri sejak diperkenalkan oleh presiden kedua Indonesia, Soeharto pada pertengahan tahun 80-an dengan memberikan batik sebagai cinderamata bagi tamu-tamu negara.

Tak hanya itu, Presiden Soeharto juga mengenakan batik saat menghadiri konferensi PBB yang membuat batik semakin terkenal.

Kemudian pada 2 Oktober 2009 UNESCO menetapkan Batik menjadi salah satu Warisan Budaya TakBenda yang dimiliki oleh Indonesia, dan hal ini menjadi Warisan ketiga setelah keris dan wayang yang terlebih dahulu masuk Intangible Cultural Heritage UNESCO.

Sejak UNESCO menetapkan batik menjadi warisan budaya Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009, perkembangan batik di Indonesia semakin pesat. Berbagai macam batik dengan motif-motif baru serta corak dengan warna yang lebih menarik semakin bertambah.

Pada awal kemunculannya, motif batik terbentuk dari simbol-simbol yang bernuansa tradisional Jawa, Islami, Hinduisme, dan Budhisme.

Seiring dengan perkembangan teknologi, pembuatan batik pun juga tidak terbatas dengan menggunakan canting atau biasa disebut batik tulis, melainkan hadirnya batik cap yang pembuatannya menggunakan cap atau stempel untuk mempercepat waktu dalam produksi batik. Namun, batik cap kurang diangap memiliki nilai seni dan dihargai dengan murah dibandingkan dengan batik tulis.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *